Nasional

Pengembangan Ekosistem Kendaraan Listrik Butuh Kolaborasi Antar Pemangku Kepentingan

×

Pengembangan Ekosistem Kendaraan Listrik Butuh Kolaborasi Antar Pemangku Kepentingan

Sebarkan artikel ini
Pengembangan Ekosistem Kendaraan Listrik Butuh Kolaborasi Antar Pemangku Kepentingan

Jakarta, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyampaikan pengembangan ekosistem kendaraan listrik butuh kolaborasi antar pemangku kepentingan.

“Kita tidak mungkin melakukan pengembangan ekosistem kendaraan listrik sendiri. Diperlukan kerja sama, sinergitas dan kolaborasi yang optimal antara Pemerintah, pelaku industri, akademisi, praktisi dan masyarakat dalam mengembangkan ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai di Indonesia,” tutur Menhub sebagaimana dikutip¬†InfoPublik¬†pada Rabu (1/5/2024).

Dirinya berharap agar edukasi kepada masyarakat terkait penggunaan kendaraan listrik terus dilakukan sehingga perkembangan kendaraan listrik dapat meningkat.

“Saya mengapresiasi Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) yang telah menyelenggarakan acara rutin yang baik ini untuk meningkatkan pemahaman bersama terkait perkembangan Kendaraan Listrik di Indonesia. Saya berharap edukasi ke masyarakat ini bisa semakin banyak diadakan,” ujarnya.

Baca Juga :   Citarum Harum, Kebanggaan Indonesia di World Water Forum

Menhub mengatakan, Pemerintah telah menerbitkan berbagai regulasi dan kebijakan insentif guna mendukung percepatan program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) untuk transportasi jalan.

Dukungan Kementerian Perhubungan yakni melalui pemberian kebijakan insentif fiskal untuk tarif uji tipe dan tarif Sertifikat Uji Tipe, baik untuk KBLBB baru maupun kendaraan hasil konversi.

“Hingga 3 April 2024, jumlah KBLBB berdasarkan jumlah SRUT yang terbit yaitu 133.225 unit. Kami bertanggung jawab dalam memastikan kendaraan bermotor yang dioperasikan wajib memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan sehingga aman dan berkeselamatan,” kata Menhub.

Kemenhub juga melaksanakan pengujian tipe kendaraan bermotor secara sistem dengan melakukan 18 item pengujian berdasarkan standar nasional maupun internasional.

Baca Juga :   Peduli Korban Erupsi Gunung Ruang, PGE Area Lahendong Salurkan Bantuan Kemanusiaan

Selain itu, pada 2025, Indonesia akan memiliki fasilitas pengujian tipe kendaraan bermotor terbesar se-Asia Tenggara yaitu Proving Ground di Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor (BPLJSKB) Bekasi yang dilaksanakan melalui proyek KPBU.

Sektor transportasi merupakan bagian dari sektor energi yang fokus pada penerapan konservasi energi serta pemanfaatan energi baru dan terbarukan dalam pengendalian emisi. Manfaat dari peralihan menuju kendaraan listrik ini adalah penurunan emisi serta penghematan energi dan biaya energi.

“Masa depan tanpa emisi dapat diwujudkan salah satunya melalui implementasi kendaraan listrik yang merupakan peluang besar untuk transisi energi bersih dan ramah lingkungan yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi,” sebut Menhub.

Baca Juga :   Tiga Pilar Utama Badan Bahasa: Memajukan Literasi, Bahasa Daerah, dan Bahasa Indonesia di Kancah Internasional

Berdasarkan data Kementerian ESDM, diproyeksikan pada 2030 jumlah kebutuhan energi pada sektor transportasi mengalami penghematan sebesar 0,4 juta TOE atau terjadi penghematan biaya energi sebesar Rp4,2 triliun. Itu terjadi dengan estimasi penurunan emisi sebesar 358 juta ton CO2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *