Teknologi

Satria-1 dan Starlink: Kombinasi Satelit Internet untuk Akses Internet di Wilayah Pelosok Indonesia

×

Satria-1 dan Starlink: Kombinasi Satelit Internet untuk Akses Internet di Wilayah Pelosok Indonesia

Sebarkan artikel ini
Satria-1
Satria-1. Foto Kominfo

Siarnews.com – Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kominfo menyatakan bahwa satelit internet Satria-1 dan Starlink bisa saling melengkapi untuk memberikan akses internet di wilayah pelosok Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Infrastruktur Bakti Kominfo, Danny Januar Ismawan, sebagai tanggapan atas isu bahwa Starlink akan memasuki pasar Indonesia untuk menyediakan internet di Indonesia bagian timur. Mengutip dari detikINET

Danny mengatakan bahwa Satria-1 dan Starlink memiliki teknologi yang berbeda, sehingga memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Satria-1 adalah satelit geostasioner (GEO) yang berada di orbit tinggi (36.000 km) dengan kapasitas 150 Gbps. Satelit ini akan melayani 50.000 titik fasilitas publik seperti sekolah, puskesmas, kantor pemerintah, dan lain-lain dengan kecepatan 4 Mbps1.

Starlink adalah satelit non-geostasioner (NGSO) yang berada di orbit rendah (550 km) dengan kapasitas yang lebih besar. Satelit ini akan melayani pelanggan ritel maupun korporat dengan kecepatan hingga 150 Mbps2. Starlink juga memiliki latensi yang lebih rendah dibandingkan Satria-1, yaitu sekitar 20-40 ms3.

“Kami dari Bakti selalu mengedepankan teknologi netral. Siapapun opsi yang memberikan manfaat lebih baik bagi negara tentu kami pertimbangkan,” kata Danny4.

Danny menambahkan bahwa Starlink masih dalam proses penggodokan regulasi di Indonesia, sehingga belum bisa beroperasi secara penuh. Sementara itu, Satria-1 sudah diluncurkan pada Juni 2023 dan akan mulai beroperasi pada awal 2024. Danny juga mengatakan bahwa Satria-1 tidak bisa menjangkau seluruh wilayah Indonesia, sehingga masih membutuhkan solusi lain seperti Starlink.

“Jadi, Satria-1 itu belum bisa cover seluruh kebutuhan, baik puskesmas maupun layanan masyarakat lainnya. Nah, Starlink ini teknologi berbeda, jadi tidak tumpang tindih karena teknologinya berbeda,” ujar Danny.

Pemerintah Indonesia sendiri telah menunjukkan ketertarikan untuk bekerja sama dengan Starlink dalam menyediakan akses internet bagi fasilitas kesehatan di daerah terpencil. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan telah bertemu dengan CEO Starlink, Elon Musk, untuk menjajaki kerjasama tersebut .

“Kami juga berdiskusi terkait ketertarikan Elon untuk bekerjasama membangun jaringan internet murah di timur Indonesia lewat satelit Starlink-nya yang populer itu,” kata Luhut dalam postingan akun Instagram miliknya.

Luhut mengatakan bahwa manfaat yang ditimbulkan jika Starlink beroperasi di Indonesia sangat besar. Misalnya, infrastruktur kesehatan seperti akses internet di puskesmas daerah terpencil bisa membantu tenaga kesehatan melaporkan data-data faskes secara real time.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *